Akhir Februari lalu, Pusdakota Universitas Surabaya kedatangan tamu dari Bandarlampung. Mereka adalah tim YPSK (Yayasan Pembinaan Sosial Katolik) Bandarlampung, yang datang untuk mengikuti Pelatihan Pengelolaan Sampah khususnya di lingkungan perkotaan. Tim yang berjumlah enam orang ini, terdiri dari staf dan perwakilan komunitas dampingan YPSK. Selama empat hari (tanggal 22 – 25 Pebruari 2016), mereka berproses bersama dengan tim fasilitator Pusdakota Ubaya. Kegiatan pelatihan diisi dengan berbagai materi yang berkaitan dengan pengelolaan sampah,

disampaikan dengan metode presentasi, simulasi dan praktek langsung.

Pada hari pertama, partisipan diajak untuk mengenal lebih jauh tentang persoalan lingkungan yang disebabkan oleh sampah. Mengenali sumber dan jenisnya, serta metode untuk pengelolaannya. Secara khusus diberikan keterampilan tentang pembuatan NEM (Natural Effective Microorganism) padat dan NEM cair. Bahan yang mengandung mikroorganisme, berperan mempercepat proses pengolahan sampah organik.

Pada hari kedua, partisipan terlibat secara langsung dalam proses pengangkutan sampah di komunitas. Bersama dengan petugas pengangkut sampah, mereka berkeliling untuk mengangkut dan melihat secara langsung bagaimana proses pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Salah satu partisipan (P. Palgunadi), bahkan mencoba untuk menarik gerobak sampah. Hal yang kelihatannya mudah, namun ternyata cukup sulit untuk dilakukan. Itulah ungkapan mereka yang menggambarkan proses pengangkutan sampah di komunitas.

Selain mengangkut sampah, partisipan juga mempraktekkan proses pengolahan sampah organik dengan metode open windrow. Dimulai dari proses pencacahan, pencampuran dengan stater, pembalikan, hingga pengayakan dan pemanenan kompos. Meski membutuhkan tenaga dan energi yang cukup besar, partisipan melakukannya dengan penuh semangat dan antusias. Praktek pengolahan sampah tidak hanya memberikan partisipan keterampilan teknis, namun mampu membangun kesadaran akan pentingnya menghargai mereka yang berperan sebagai pengangkut dan pengolah sampah. Karena keberadaan merekalah, kita bisa mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat.

Hari ketiga, partisipan mendapatkan pembelajaran tentang pengelolaan sampah anorganik. Diawali dengan pemaparan materi tentang Manajemen Bank Sampah, praktek daur ulang sampah plastik dan kertas, serta kunjungan lapangan ke rumah kompos Kebun Bibit Wonorejo. Sesi praktek banyak memberikan gambaran tentang hal-hal yang bisa mereka tindaklanjuti pasca pelatihan ini. Seperti pengembangan Bank Sampah untuk menjadi usaha salah satu warga komunitas yang selama ini sudah melakukan pengambilan sampah.

Sebagai penutup rangkaian pelatihan, partisipan melakukan penyusunan rencana tindaklanjut untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh. Dimulai dari tingkat keluarga, partisipan berkomitmen untuk melakukan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan keranjang takakura. Keterampilan yang diperoleh selama proses pelatihan ini, diharapkan semakin memperluas bidang pelayanan sosial kemanusiaan dan lingkungan yang selama ini telah dilakukan oleh YPSK.