Minggu, 22 Pebruari 2016, mendung masih menggantung. Riuh anak-anak terdengar ceria di pendopo Pusdakota Ubaya. Anak-anak yang tergabung di kelompok Pustakawan Cilik (KANCIL) sedang mempersiapkan diri untuk berkunjung ke Tugu Pahlawan Surabaya. Kunjungan tersebut adalah salah satu kegiatan rutin KANCIL yaitu Wisata Pustaka, yang bertujuan mengajak anak-anak mengenal dan belajar secara langsung tentang perjuangan pahlawan. Ada 13 anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Secara berkelompok anak-anak KANCIL mengamati berbagai hal,

termasuk saat mereka masuk ke Musium 10 Nopember yang ada di area Tugu Pahlawan.

Mereka sibuk mengerjakan tugas yang diberikan kakak pendamping. Beberapa anak serius mendengarkan pidato Bung Tomo, sesekali mereka menulis di lembar tugas. Anak-anak dengan seksama melihat dan membaca setiap tulisan yang terpampang di patung-patung pahlawan atau gambar-gambar tentang perjuangan. Dengan penuh semangat mereka menyusuri setiap sudut ruangan museum ini. Hampir satu setengah jam anak-anak KANCIL berputar putar musium, saatnya keluar musium dan bermain bersama. Sayangnya, cuaca tidak mendukung, hujan turun cukup deras. Hampir 1 jam menunggu hujan berhenti, akhirnya nekad untuk kembali. Meski sedikit kecewa, anak anak KANCIL tetap gembira.

Selama perjalanan pulang, cuaca semakin membaik, akhirnya kakak pendamping mengajak kelompok KANCIL untuk bermain di Kebun Bibit atau Taman Flora, yang ada di  Bratang. Anak-anak KANCIL asyik mengeksplorasi Taman Flora, tak lupa mereka mencoba berbagai alat-alat permainan outbound. Setelah bergembira ria saatnya pengumuman pemenang untuk tugas-tugas yang diberikan saat di Tugu Pahlawan. Ternyata kakak pendamping sudah menyiapkan hadiah untuk 2 kelompok, menang kalah tak masalah yang penting sudah belajar dan keduanya dapat hadiah yang menarik. Sebelum pulang, kakak pendamping juga anak-anak KANCIL bercerita apa yang didapatkan selama seharian. Ayuan, salah satu anak KANCIL mengatakan bahwa saat ini dia akan belajar untuk lebih berani dan tidak takut, karena begitulah cara pejuang berjuang.

Rasanya sehari berlalu begitu cepat, tapi dalam dada adik-adik mulai bersemi rasa nasionalisme, rasa cinta pada bangsanya dan menghormati jasa-jasa pahlawannya. Semoga mereka mampu terus memupuk rasa nasionalisme tersebut.